Merpati kecoklat-coklatan datang kabarkan angin barat
Seakan menceritakan akan ada kesedihan atau kegembiraan kan menerpa
Seiring gerimis tiada berhenti berjatuhan seolah tiada lelah
Sehari menjadi setahun… sekan menanti suatu yang tak kunjung tiba
Demikian ku sandarkan nasib lewat angin dingin menggigilkan
Menembus tulang menembus hati menembus jantung
Terasa sakit seperti dera sembilu menerpa kesunyian dan keheningan malamku
Ada keterasingan yang tiba-tiba menjadi teman setia
Ada kegalauan yang menusuk dari segala penjuru badan
Ada keheningan yang menjadi penghias tanpa sedikitpun memberi kesempatan
Sehari menjadi setahun… aku menantimu di keheningan, kegalauan, dan keterasinganku
Sesaatpun kau tak berpaling kecuali lirikan sinis atas nasib kesunyian
Sesaatpun kesunyian menjadi belati yang engkau hunus dan ayunkan dalam belantara kehidupan
Sesaatpun kegalauan seakan menjadi palu hakim yang menghukum kita dalam penjara keterasingan
Ah…Engkau bersemayam dalam gemeretak rindu dendamku
Semakin dalam… semakin kelam….semakin menyiksa
Engkau adalah engkau yang tafakkur merenungi nasib kesunyian untuk menjadi kesedihan
Engkau menjadi godam penentu nasib yang tiada surut mencipta kegalauan
Esok adalah sesaat seolah setahun yang tiada pernah sirna dalam bingkai kehidupan
Apapun nasib kesunyian yang tak bisa menggugat dan bicara
Engkau tiada pernah mencium rasa rinduku
Engkau tiada pernah memeluk rasa cintaku
Engkau tiada pernah menitah kesepian sebagai ujianku
Engkau tiada pernah menatap kelam harapku
Engkau… tetaplah engkau yang hanya memberi sesaat sebagai setahun penuh penantian
Engkau…tetaplah engkau yang menghadirkan keheningan, kegalauan, dan keterasingan sebagai warna hitam kehidupan
Dan engkau… tetaplah engkau yang tiada ingin merubah nestapa jadi gembira
Engkau… tetaplah engkau yang membuat menanti menjadi penuh perjuangan
Engkau… tetaplah engkau yang akan memutuskan untuk dapat mencium, memeluk, dan menitahkan perasaanku
Seakan menceritakan akan ada kesedihan atau kegembiraan kan menerpa
Seiring gerimis tiada berhenti berjatuhan seolah tiada lelah
Sehari menjadi setahun… sekan menanti suatu yang tak kunjung tiba
Demikian ku sandarkan nasib lewat angin dingin menggigilkan
Menembus tulang menembus hati menembus jantung
Terasa sakit seperti dera sembilu menerpa kesunyian dan keheningan malamku
Ada keterasingan yang tiba-tiba menjadi teman setia
Ada kegalauan yang menusuk dari segala penjuru badan
Ada keheningan yang menjadi penghias tanpa sedikitpun memberi kesempatan
Sehari menjadi setahun… aku menantimu di keheningan, kegalauan, dan keterasinganku
Sesaatpun kau tak berpaling kecuali lirikan sinis atas nasib kesunyian
Sesaatpun kesunyian menjadi belati yang engkau hunus dan ayunkan dalam belantara kehidupan
Sesaatpun kegalauan seakan menjadi palu hakim yang menghukum kita dalam penjara keterasingan
Ah…Engkau bersemayam dalam gemeretak rindu dendamku
Semakin dalam… semakin kelam….semakin menyiksa
Engkau adalah engkau yang tafakkur merenungi nasib kesunyian untuk menjadi kesedihan
Engkau menjadi godam penentu nasib yang tiada surut mencipta kegalauan
Esok adalah sesaat seolah setahun yang tiada pernah sirna dalam bingkai kehidupan
Apapun nasib kesunyian yang tak bisa menggugat dan bicara
Engkau tiada pernah mencium rasa rinduku
Engkau tiada pernah memeluk rasa cintaku
Engkau tiada pernah menitah kesepian sebagai ujianku
Engkau tiada pernah menatap kelam harapku
Engkau… tetaplah engkau yang hanya memberi sesaat sebagai setahun penuh penantian
Engkau…tetaplah engkau yang menghadirkan keheningan, kegalauan, dan keterasingan sebagai warna hitam kehidupan
Dan engkau… tetaplah engkau yang tiada ingin merubah nestapa jadi gembira
Engkau… tetaplah engkau yang membuat menanti menjadi penuh perjuangan
Engkau… tetaplah engkau yang akan memutuskan untuk dapat mencium, memeluk, dan menitahkan perasaanku