Aku hanya bisa menatapmu dari kejauhan
Dengan penuh rasa rindu yang menyesakkan… lebih sering menjengkelkan
Karena aku tidak bisa menumpahkannya
Karena aku tidak bisa menunjukkan makna “rindu” sebagai makna kasih yang sangat besar
Entah kamu tahu atau tidak… aku semakin merindumu dalam setiap hela nafas dan detak jantungku
Setiap jarak dan waktu yang tercipta semakin terasa merenggangkan…
kamu telah sangat menyiksa hari-hariku
Hanya sekelumit bayang wajahmu
Tatap binar matamu
Senyum menggemaskan ketika aku merasa engkau sudah mulai mencintaiku
Kulit jemari halusmu yang lentik dan hangat setiap aku sentuh
Harum tubuhmu ketika kita berdekatan
Hanya sekelumit….
Namun terasa sangat bernilai sebagai obat arindu yang tertumpahkan
Kerapkali lontar putus asa… letih, capek, pusing, dan kegundahanmu
Menjadi bagian rasa cinta yang engkau tak ingin ungkap
Menjadi sekelumit sikap “agung”mu
Atau menjadi episode dari mata uji sikap rindu dan kasih sayang untuk mentegarkan dirimu dari rasa tidakmungkinmu mencintaiku
Di sini… dengan sedikit keberanian dan kelaki-lakianku
Aku tetap ingin mentegarkan dan menteguhkan “cinta” yang tak pernah kau ungkapkan
Akulah lelaki yang paling mampu membahagiakanmu
Hanya aku lelaki yang mampu membuat engkau merasa tersiksa rindu setiap detik tanpa mengingatku
Hanya aku lelaki yang mampu mencintaimu secara luar biasa
Inilah ke”gila”an cinta dan rindu yang hanya kepadamu ingin aku berikan
(akhirnya: saat ini harus ada kamu yang menjadi satu-satunya perempuan yang mampu menjadikanku laki-laki penuh optimis dan tiada takut akan masa depan)
Dengan penuh rasa rindu yang menyesakkan… lebih sering menjengkelkan
Karena aku tidak bisa menumpahkannya
Karena aku tidak bisa menunjukkan makna “rindu” sebagai makna kasih yang sangat besar
Entah kamu tahu atau tidak… aku semakin merindumu dalam setiap hela nafas dan detak jantungku
Setiap jarak dan waktu yang tercipta semakin terasa merenggangkan…
kamu telah sangat menyiksa hari-hariku
Hanya sekelumit bayang wajahmu
Tatap binar matamu
Senyum menggemaskan ketika aku merasa engkau sudah mulai mencintaiku
Kulit jemari halusmu yang lentik dan hangat setiap aku sentuh
Harum tubuhmu ketika kita berdekatan
Hanya sekelumit….
Namun terasa sangat bernilai sebagai obat arindu yang tertumpahkan
Kerapkali lontar putus asa… letih, capek, pusing, dan kegundahanmu
Menjadi bagian rasa cinta yang engkau tak ingin ungkap
Menjadi sekelumit sikap “agung”mu
Atau menjadi episode dari mata uji sikap rindu dan kasih sayang untuk mentegarkan dirimu dari rasa tidakmungkinmu mencintaiku
Di sini… dengan sedikit keberanian dan kelaki-lakianku
Aku tetap ingin mentegarkan dan menteguhkan “cinta” yang tak pernah kau ungkapkan
Akulah lelaki yang paling mampu membahagiakanmu
Hanya aku lelaki yang mampu membuat engkau merasa tersiksa rindu setiap detik tanpa mengingatku
Hanya aku lelaki yang mampu mencintaimu secara luar biasa
Inilah ke”gila”an cinta dan rindu yang hanya kepadamu ingin aku berikan
(akhirnya: saat ini harus ada kamu yang menjadi satu-satunya perempuan yang mampu menjadikanku laki-laki penuh optimis dan tiada takut akan masa depan)