KETIADAAN MAKNA

Apa yang kita tahu tentang kehidupan apabila kita tidak memahami apapun tentangnya?
Padahal “Tidak memahami apapun” juga merupakan bagian dari kehidupan itu sendiri!
Apa yang kita tahu tentang kebahagiaan?
Padahal “kebahagiaan” itu hanyalah awang-awang tidak jelas yang kita diminta untuk tetap menengadah berharap ia turun menjadi bumi dan pijakan kita!
Apa yang kita hindari dari penderitaan?
Apabila sesungguhnya ia lebih sering hadir di depan mata kita,
bahkan menjadi nafas sehari-hari kita!
Apa yang kita tahu tentang diri kita? Kalau ternyata diri “kita” sesungguhnya hanyalah seonggok daging tulang berbathin yang bathin adalah segala-galanya dominan pada tubuh “daging tulang”!
Kita sedang berkutat dengan “ketiadaanmakna”.
Kita sedang berkutat dengan perputaran hidup yang selamanya tiada dapat kita mengerti.
Kita sedang bergelut dengan tertawa tiada pernah lepas atau kesedihan yang datang tiba-tiba.
Kematian lantas menjadi jalan paling nyaman dan tiada melelahkan untuk menjemput ketiadaanmakna itu.
Kematian karena sakit
Kematian karena tua
Hanyalah kematian semu karena kita tetap bergelut dengan ketiadaanmakna
Namun kematian sejati adalah
Ketika kita meminta kematian itu datang
Menjemputnya dengan tangan terbuka
Tersenyum menyambutnya seperti kerinduan tak terperikan
Lantas berkata “ini aku sang penolak ketiadaanmakna”
“aku sang penerima ketiadaanmakna”
“Aku menolak dan aku menerima”
Dalam waktu yang bersamaan
“Akulah kematian itu sendiri”

OREGADE ALL IN ONE