I.
Waktu hanya bicara untuk satu saat, selebih menjadi cerita…
Terkadang menjadi suka atau duka yang mengkarat dalam kesadaran masa lalu kita
Kita hanya melaluinya dalam ketegaran
karena kita percaya semua adalah kesadaran
Sepenuh waktu…
KINI tidak pernah ada dengan sendirinya
Aku tidak bisa membiarkannya berlalu pergi meninggalkan semata sejarah
Cerita harus dicipta dengan untai CINTA yang sulit diurai plotnya
Cerita bukan waktu yang berjalan kini
karena KINI menjadi buah kesadaran
Kenapa kita tidak menghias waktu dengan noktah emas?
Karena kita meragukan kesadaran waktu
Waktu adalah AKUENGKAU yang bersama-sama sebagai cita-cita tentang masadepan
(aku menyadarinya sejak lama)
II
Jawabku hanya ENTAH…
SERIBU nalar kecuali perhatian, kasih, cinta, sepenuh harapanku yang mampu engkau nilai
Sesak benar hatiku ketika tidak seujung yakinmu datang
Keterasinganku hanyalah karena aku tidak berarti apa-apa
Kehidupan telah terlalu mengutukku menjalani garis hidup tak tentu nasib
Bersamamu adalah keindahan hidup yang aku tidak bisa andai-andaikan saat lalu
Engkau…biarkan saja rasa tidak percayamu dan rasa cemburu, rasa minderku menjadi hukuman untukku
Aku layak menerimanya
Hukumlah aku bila rasa cintaku menuntutnya
Engkau hanya awang-awang dalam pagihariku
III
Terjebak dalam kegilaan menjadi penyempurna kehidupan karena malam hanya rentang waktu pengganti siang
Kegilaan menelusup seperti virus yang tiada tandingan, namun aku bahagia menjadi muda kembali
Kegilaanku adalah gila pada mata binar mata penuh curiga
Gila pada pikiran penuh perhitungan
Gila pada harap cemasku sendiri
Tiadalelaki segila aku yang menabrak dan coba menghancurkan kenyataan
Tapi kegilaanku adalah mahasempurna kehidupan
IV
Seperti matahari telungkup kehabisan semangat cahayanya
Aku tersiksa rinduredam kepada binar mata indahmu
Biarlah aku menangisi jarakwaktu yang memisahkan
Akuengkau tiada kan bersua
Namun hati kita yang berpelukan
V
Aku dihimpit rindu dendam yang semakin tebal setiap engkau menjauh
Setiap detik semakin jauh
Tak satu pun untai kata sanggup mewakili degupjantung dan rasa bersalahku setiap mata kita bertaut
VI
Aku menjadi laki-laki ketika ketegaran dan keberanian menjadi keputusan
Kecemasan adalah sisi manusiawi karena ada tanda tanya besar tentang esok hari
Aku telah cemas dengan taqdirku karena taqdirku adalah lelaki penuh gejolak namun kesepian tiada mendapatkan cintamu
VII
Percayakah engkau dengan dosa?
Dosa menjadi ada sebagai alasan mencipta dunia gelap gulita
Ketika kita butuh terang,
dosa hadir agar kita dapat memaafkan
Yang ada menjadi hening
VIII
Aku meradang hanya dengan congkak keakuan karena kehidupan yang datang lalu pergi tiada pernah aku merencanakan
Siapa ia yang setia kepada sengsara?
Masa laluku telah tercatat dalam benak iblis kesengsaraan
Memerah amarah semakin datang hujam dengan singsing matahari kehidupan
Sejuk batin telah terpaksa malas menghampiri karena embun menghilang oleh malam penuh kegelapan
Hanya waktu yang sedia menjadi saksi doa dan dusta yang kian mengendalikan hati
Hati tak bicara
Kesepian adalah teman yang paling setia
Kegalauan menjadi istri malam
Meruntuk menjadi tasbih orasi sang iblis penakluk terang mentari
Namun mentari telah mati oleh gelombang penat dan kelelahan