S O R E

Jalan ini sesungguhnya jalan pendek… kurang dari 1 kilometer. 
Ia menjadi lintas sambung potret pinggir kota dengan corak penduduk pedesaan yang bersinggungan dengan dan karakter manusia – manusia kota yang komunal, khas modern, teratur, lebih bersih, dan dengan perumahannya yang lebih tertata.
Setelah melalui belokan yang merupakan jalan utama, semua pejalan  dihadirkan pemandangan kontras. Ada lapangan sepakbola kampung yang sesekali ramai di sore hari dengan anak-anak, entah main bola, entah main layangan. Sesekali melintas cidomo dengan kotoran kuda yang menjadi sampah jalanan. Sesekali truk pengangkut sampah datang dan pergi meninggalkan bau tidak sedap. Sesekali tampak orang-orang berjalan dan olah raga sore dengan ceria. 
Ada hamparan padi yang siap panen. Ada rumah yang belum jadi di pinggir sungai kotor dengan sampah yang semakin hari semakin menumpuk. Ada tumpukan sampah yang menggunung dan menutup lahan curam dengan bau yang sangat menyengat. Ada jalan aspal yang tidak terlalu mulus dan berlubang di sana-sini. 
Jalan ini sesungguhnya jalan pendek…kurang dari 1 kilometer.
Jalan yang tidak pernah istimewa… jalan yang sama dengan jalan-jalan yang lain.
Namun jalan ini adalah jalan sejarah… setidaknya sekeping sejarah hidup telah kita rangkai bersama di saat kita menyusuri jalan itu.
Kita memperlakukan seperti
Kita mejalan penyambung hanya sekedar 
Membuka jendela menatap pagi
Semburat cahaya terasa penuh pesona nan indah…
Mengitari kehidupan dan menyapa tidurku… aku hanya terpana terpesona
Menikmati panasnya dan tubuh kubiarkan bermandikan cahaya
Pagi yang sumbangkan gembira… Pagi yang hadirkan bahagia
Namun aku labih dari sekedar berharap sore nanti akan lebih baik dari pagi ini
tuk menutup perjalanan aktivitas waktu sebagaiman kurasakan saat aku membuka jendela.

OREGADE ALL IN ONE