I
Kisahmu tak pernah usai ku baca
Tubuhmu bersayap di pasir memancar
Di dalam lautan engkau mencair
Pernah kujumpai engkau duduk sendirian
Di atas karang
Membaca kitab samudera
Ada angin…. Asin garam… badai… hujan…perahu… dan bajak laut
Kisah cintamu dengan perawan laut
Di tepian pengembaraan menjadi pusat
Menjadi diri yang bersarang
Dan tubuhmu pun tenggelam
Menjadi matahari laut
Yang ada hanya ganggang
Yang ada hanya jejakmu terhapus waktu
Terpahat di dinding-dinding laut
Palung dan gua-gua berlumut
Tinggal tanda yang harus ku maknai
Berulang kali agar aku sampai pada mu
II
Namun karang telah bergeser
Tidak hanya oleh gelombang
Ada angin barat..
Buih…
Nyanyi anak pantai…
Pasir laut…
Bahkan oleh kicau burung camar
Torehan manuskrip menjadi tinda menoda merah
Lembar-lembarnya merapuh oleh runtuk zaman
Ada panas…
Hujan…
Kegelapan
Dan matahari
Karang lalu memipih malu bersama waktu yang terbuang percuma
Aku tiada memegang manuskrip itu lagi
III
Sentuh awang yang jadi cakrawala
Kehidupan..
Gapai-gapai tanganku dengan keringat menetes deras
Menanda diri pada rengkah rapuh pijakan
Tak sampai….
Pijakku melemah waktu demi waktu
Tak ada dahagaku terluruhkan
Awang menjauh
Kaki merapuh
Waktu menua dalam harap yang bersimpuh
Kini tangan yang melemah dan
cakrawala oval yang penuhi bola mata berkaca
IV
Kegelapan malam adalah teman sejati kesunyian
Merembes di tenang batin yang menanti sapa sejuk angin..
Alangkah malang aku menemukan sepi
Ditengah hiruk dunia yang menjadi petaka
Aku menanti…
V
Tidurlah
Dan duniapun sepi
Aku tahu waktu-waktu kita penuh arti
Aku tahu ini ujung dari hidup tapi kita akan mengerti
Suatu ketika matahari terbit dalam hidup kita secara berbeda
Aku tidak bijak tapi dosa aku tanggung sampai kapan aku kamu mengerti
Bulan telah meredup sirna ketika bintang tertangkup awan
Kita harus saling memaafkan sebelum tali hidup terputuskan tiada kita sadari
Tubuhmu bersayap di pasir memancar
Di dalam lautan engkau mencair
Pernah kujumpai engkau duduk sendirian
Di atas karang
Membaca kitab samudera
Ada angin…. Asin garam… badai… hujan…perahu… dan bajak laut
Kisah cintamu dengan perawan laut
Di tepian pengembaraan menjadi pusat
Menjadi diri yang bersarang
Dan tubuhmu pun tenggelam
Menjadi matahari laut
Yang ada hanya ganggang
Yang ada hanya jejakmu terhapus waktu
Terpahat di dinding-dinding laut
Palung dan gua-gua berlumut
Tinggal tanda yang harus ku maknai
Berulang kali agar aku sampai pada mu
II
Namun karang telah bergeser
Tidak hanya oleh gelombang
Ada angin barat..
Buih…
Nyanyi anak pantai…
Pasir laut…
Bahkan oleh kicau burung camar
Torehan manuskrip menjadi tinda menoda merah
Lembar-lembarnya merapuh oleh runtuk zaman
Ada panas…
Hujan…
Kegelapan
Dan matahari
Karang lalu memipih malu bersama waktu yang terbuang percuma
Aku tiada memegang manuskrip itu lagi
III
Sentuh awang yang jadi cakrawala
Kehidupan..
Gapai-gapai tanganku dengan keringat menetes deras
Menanda diri pada rengkah rapuh pijakan
Tak sampai….
Pijakku melemah waktu demi waktu
Tak ada dahagaku terluruhkan
Awang menjauh
Kaki merapuh
Waktu menua dalam harap yang bersimpuh
Kini tangan yang melemah dan
cakrawala oval yang penuhi bola mata berkaca
IV
Kegelapan malam adalah teman sejati kesunyian
Merembes di tenang batin yang menanti sapa sejuk angin..
Alangkah malang aku menemukan sepi
Ditengah hiruk dunia yang menjadi petaka
Aku menanti…
V
Tidurlah
Dan duniapun sepi
Aku tahu waktu-waktu kita penuh arti
Aku tahu ini ujung dari hidup tapi kita akan mengerti
Suatu ketika matahari terbit dalam hidup kita secara berbeda
Aku tidak bijak tapi dosa aku tanggung sampai kapan aku kamu mengerti
Bulan telah meredup sirna ketika bintang tertangkup awan
Kita harus saling memaafkan sebelum tali hidup terputuskan tiada kita sadari