AKU INGIN LAHIR KEMBALI

Aku tidak begitu tahu…jatuh cinta terasa menyakitkan. Aku sudah lama tidak merasakan sebegini menyakitkannya. Ada gumpalan hasrat memiliki. Ada kembangan tangan ingin meraih. Ada perasaan ingin memberi dan mengasihi. Ada perasaan melindungi… ada perasaan menyukai senyum, lirik mata, gaya bicara, cara duduk, dan lain sebagainya.
Namun perasaan itu dibarengi dengan perasaan “mungkin tidak mampu kuraih”. Ada perasaan tidak mungkin diterima, ditolak, ditidakacuhkan, dan lain sebagainya sehingga semua rasa kasih, rasa sayang, rasa melindungi seakan luruh dalam ketakutan akan diabaikan.
Jatuh cinta menjadi menggelisahkan… Seperti gelisah mengangankan sesuatu yang sesungguhnya adalah bagian dari diriku namun entah kenapa hilang dari diriku. Gelisah nafas seperti hirup hembusan nafas yang tersengal-sengal karena oksigen telah menipis. Nelangsa seperti sawah ladang yang di dalamnya ada hamparan padi siap tanam merindukan air namun air mengering menguap entah kemana. Pekat seperti langit biru yang menjadi gelap karena mendung. Seperti sakit yang kita tahu dan siap meminum obatnya namun takut obatnya kelebihan dosis. Entah…seperti apa jatuh cinta itu menakutkanku.
Ya… jatuh cinta menjadi sangat menakutkan, namun ia datang tidak pernah diminta atau diangankan lalu meracuni kehidupanku dengan keindahannya. Jatuh cinta padamu laksana menanam rindu dendam hati yang semakin dalam lalu semakin kelam.
Jatuh cinta pada mu adalah ketika kita kerap saling bicara, berdiskusi, aku lantas mengenalmu sebagai adik abang sekaligus guruku. Ada gembira yang muncul karena seolah kamu bukan orang lain bagiku. Kita bicara lebih dalam, kita saling mengenalkan diri, dstnya.
Kita tetap berkomunikasi… aku kerap mengirimu puisi, kerap menyentuh tangan dan jemarimu dengan debar-debar aneh yang aku saja yang merasakannya. Aku tahu, aku membuatmu “nyaman”. Hanya itu…. Nyaman yang hanya dirimu yang tahu maknanya.
Aku tersanjung, aku merasakan debar aneh itu perlu dibahasakan. “BEBZZ”…aku memanggilmu. Kamu penuh curiga mengatakan bahwa itu panggilan yang semantiknya hanya pemanis belaka dan sementara.
Namun kita tetap berkomunikasi; lalu kamu mengatakan; Jangan GR!!! Aku hanya suka “kata” itu, bukan kalimat tafsirannya.
Aku tertampar. Aku tersandung. Aku terbuang. Aku teradili; tidak pantas aku jatuh cinta. Tidak pantas aku mengartikan lebih. Tidak pantas…tidak boleh…bahkan tidak untuk diangankan.
Dulu, aku sangat jujur mengatakan padamu siapa aku dan apa kekuranganku. Aku tidak pernah bicara lebih tentang siapa aku, bagaimana keluarga ku, bagaimana kehidupanku. Yang aku ceritakan adalah kekuranganku; “aku sangat mudah menyukai”, “aku sangat mudah “jatuh cinta””.
Lantas apakah jatuh cinta itu? Seperti di atas, aku tahu tidak mampu menjabarkannya dengan lugas dan mudah dimengerti. Yang aku tahu hanya; orang kerap jatuh cinta kepada seseorang karena tertarik wajahnya, bola matanya, pintarnya, pergaulannya, simpatinya, penerimaannya, kebaikannya, hartanya, atau apa lainnya-lah, entah dan seterusnya karena.
Begitu pula aku, aku pun mudah jatuh cinta dengan aneka alasan dan sebab. Aku butuh teman, dan teman bisa aku jatuhcintai karena salah satu yang mereka miliki dan ditunjukkannya sebagai empatinya padaku.
Dulu aku jatuh cinta padamu karena kesejukan mata binarmu. Dulu aku jatuh cinta karena kecerdasanmu. Dulu aku jatuh cinta karena kamu enak diajak ngobrol. Dulu aku jatuh cinta karena kamu mau mendengar. Aku jatuh cinta padamu dengan pengertian yang sederhana, tanpa totalitas, tanpa ingin memiliki atau meraih, tanpa ingin meminta dan hanya memberi, tanpa ingin … menjadi laki-laki.
Mengapa…?. Aku hanya menemukan sisi kekuranganku.
Jatuh cinta pada konteks ini adalah jatuh cinta yang bukan seorang laki-laki penuh harap ingin berbagi, jatuh cinta seorang laki-laki yang ingin saling memberi dan menerima, jatuh cinta seorang laki-laki yang ingin merajut harapan dan cita-cita baru. Aku memiliki jatuh cinta “sederhana” untuk saling member rasa aman…
Ketika jatuh cinta semacam ini tidak aku dapatkan, aku mudah mencari kembali. Kembali menerawang langit luas sambil tetap berharap ada perbaikan dalam hidupku
Aku tetap ingin jatuh cinta….Aku tetap mencari…mencari…dan mencari.
Suatu ketika hadir “BEBZZ” yang menjadi teman bicara yang enak, penuh empati, penuh pengalaman, penuh perhatian. Ia yang menjadi solusi dan jalan keluar dari aneka masalah hidupku. Aku “jatuh cinta” padanya karena perhatiannya, empatinya, kekeluargaannya, persaudaraannya. Untuk jatuh cinta sebagai laki-laki, adalah suatu hal yang tidak mungkin.
Bagiku, “BEBZZ” memberikan itu padaku. Aku “jatuh Cinta” padanya tidak secara total.
Kebodohanku adalah “jatuh cinta’ kepada sesorang yang mustahil kumiliki.. Kebodohanku adalah bermain-main dengan bola api panas yang disulut oleh sikapku.
“BEBZZ”... Ia enak diajak bicara, bisa dijadikan tempat mengadu, penuh perhatian. Aku “jatuh cinta” padanya. Kami terus bicara penuh perhatian satu sama lain. Lewat ia, aku kembali mencurahkan rasa jatuh cintaku. Lewat ia, aku menyampaikan penyesalanku yang terdalam dan menginginkan “CINTA”ku kembali menjadi Cintaku.
Sampai suatu ketika; bulan agustus 2009 saat itu, aku hampir terkoyak habis… ku sadari sekali mustahil “BEBZZ” kan mendampingiku seterusnya..
Sekarang aku jatuh cinta dengan penuh perasaan. Bukan jatuh cinta yang hanya membutuhkan teman bicara, namun jatuh cinta yang membuatku tersiksa rindu yang semakin dalam. Aku rindu masa-masa dulu …Aku gali lagi puing perasaanku. Ada “BEBZZ” yang tetap ada dihatiku sebagai perempuan yang tidak hanya bisa aku angankan menjadi teman, namun teman yang setiap detik menemani kehidupanku dan desah nafasku.
Hadirmu pertama kali aku ingin ulangi. Seperti dulu, ketika aku tahu ada gadis manis yang biasa aku ajak dialog, bekerja sama, bahkan bertukar tawa cerita. Seperti dulu, pelit bicaramu menjadi bertolak belakang dengan Bonis, yang membuat ruangan itu menjadi dingin, hambar, penuh kehati-hatian.
“BEBZZ” … bila saat ini, aku ingin menerjemahkan rasa “jatuh cinta”ku padamu sebagai jatuh cinta yang mustahil, maka aku ingin engkau tahu aku tidak akan pernah menyesal mengenalmu. Jatuh cinta sebagai laki-laki, bukan hanya sebagai teman, adalah perasaan penuh seni antara rindu dan siksa. Kamu tetap seperti ketika pertama kali aku mengenalmu.
Aku ingin jarum waktu ini aku putar kembali. Aku tidak mampu meminta maaf atas semua luka yang aku ciptakan karena “jatuh cintaku” dan harga dirimu yang terlalu mahal untuk aku tebus dengan maaf. Aku hanya ingin kembali mengenalmu sebagai “cinta”ku yang membiarkan aku meraihmu, mencintaimu, memilikimu, merajut mimpi hari esok bersamamu, mengasuh anak-anak bersamaku, dan seterusnya tanpa dijejali oleh perasaan bersalah hanya kerna kebodohanku bermain api di masa lalu.
. Tidak ada perempuan manapun yang akan bisa jatuh cinta kepada laki-laki yang sarat kekurangan. Tidak ada perempuan yang akan mencintai laki-laki penuh persoalan. Tidak ada perempuan yang dapat memilih dan menerima laki-laki yang tidak diangankannya. Tidak ada perempuan yang mau penuh penderitaan.
Aku tahu…tapi aku bukan pejalan nasib yang aku sebagai penentunya.
Masa depan itu adalah tanda Tanya. Masa depan adalah masa kita mempertaruhkan diri. Aku ingin mempertaruhkan diri untuk dapat menemukan “cinta” ku kembali. Peduli amat ia akan menerima atau menolak!.
Yang penting 1 aku minta;
“BEBZZ”..izinkan aku lahir kembali.

OREGADE ALL IN ONE